JERMAN

Senin, 15/12/2014, 17:16
Membedah Prospek dan Tantangan bagi ASEAN Economic Community 2015 di Berlin

JERMAN fauzi bowo dubes
 

membedah-prospek-dan-tantangan-bagi-asean-economic-community-2015-di-berlin biro-jerman
BERITA TERKAIT
 
Terwujudnya Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 dengan pasar dan basis produksi tunggal dan ekonomi yang terintegrasi secara global merupakan era baru bagi negara-negara di Asia Tenggara.

Komunitas Ekonomi ASEAN walau masih menghadapi sejumlah tantangan, namun memberikan banyak peluang baru, tidak hanya untuk ASEAN, tapi juga ekonomi lainnya, termasuk Jerman yang merupakan salah satu negara pilar ekonomi Uni Eropa.

Dalam kaitan itu, Jerman memiliki perhatian terhadap perkembangan di kawasan dengan  salah satu tingkat pertumbuhan ekonomi dinamis di dunia.

Dengan dasar pemikiran tersebut, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin bersama Berlin ASEAN Committee - BAC (perwakilan negara-negara ASEAN di Berlin) dan Konrad-Adenauer-Stiftung menyelenggarakan Joint Conference "Challenges for ASEAN Economic Community in 2015" pada , Kamis (11/12/2014) di Berlin, Jerman.

Konferensi ini dihadiri 100 peserta yang berasal dari komunitas bisnis, akademisi, korps diplomatik dan masyarakat madani di Jerman, Indonesia dan negara-negara ASEAN.

Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman, Dr. Ing. Fauzi Bowo selaku Ketua BAC dalam pidato pembukaannya menyampaikan, meskipun ASEAN telah melangkah jauh sejak didirikan 47 tahun yang lalu, terutama dalam hal pertumbuhan ekonomi, perdagangan, liberalisasi tarif serta tindakan  dalam mewujudkan pergerakan barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan aliran modal secara bebas, namun ASEAN masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, terutama dalam memastikan komunitas ekonomi ini people driven dan people oriented.

Joint Conference ini menghadirkan  beberapa pembicara, antara lain, Dr. Lim  Hong Hin, Deputi Sekjen ASEAN untuk ASEAN Economic Community, Prof. Dr. Aleksius Jemadu, Dekan FISIP Universitas Pelita Harapan, Dr. Volker Treier, Deputy Chief Executive Association of German Chambers of Commerce and Industry, Prof. Dr. Heribert Dieter, peneliti isu-isu global dari German Institute for International and Security Affairs (SWP) serta Dr. Ninasapti Triaswati, pengamat dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Beberapa hal yang mengemuka dalam Joint Conference ini adalah, pertama tantangan signifikan bagi intergrasi ASEAN, termasuk perwujudan AEC 2015, adalah adanya gap komitmen bersama di tingkat regional dengan penerjemahannya secara domestik oleh masing-masing negara, baik dalam regulasi maupun komitmen politik.
Kedua, terbukanya free flow of people movement di ASEAN akan memberikan keuntungan terbesar bagi tenaga kerja dengan keterampilan yang tinggi, terutama di sektor keuangan dan pertambangan.

Sementara tenaga kerja dengan keterampilan rendah yang merupakan hampir setengah dari populasi tenaga kerja ASEAN akan menjadi pihak yang paling banyak mengalami tantangan dan kerugian. Berbagai program pendidikan dan pelatihan telah dirancang khusus untuk mengurangi kesenjangan tersebut.

Ketiga, Indonesia sebagai ekonomi dan pasar terbesar di ASEAN seharusnya menerima manfaat terbesar dari AEC. Posisi Indonesia di AEC disandingkan dengan posisi Jerman di Uni Eropa. Apabila Indonesia tidak segara meningkatkan kapasitasnya untuk berkompetisi dengan negara-negara tetangga, maka Indonesia hanya akan menjadi target pasar dan bukan target investasi di kawasan.

Keempat, masih ada pekerjaan rumah bagi ASEAN untuk membuat pengaturan yang memudahkan bagi usaha kecil dan menengah serta pengaturan lainnya yang meng-engage sektor swasta.

Kelima, banyaknya pengaturan kerjasama regional di kawasan, seperti APEC, Trans-Pacific Partnership, FTAAP dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), jangan dilihat sebagai persaingan atas AEC, namun sebagai building blocks menuju liberalisasi perdagangan yang lebih luas seiring masih stagnannya perundingan Doha Round di WTO.

Keenam, meskipun Uni Eropa adalah inspirasi bagi ASEAN untuk melangkah jauh dalam proses integrasi, namun tidak dapat dibandingkan mengingat jalur yang ditempuhnya berbeda. Proses integrasi di ASEAN cenderung lebih hati-hati dan penuh pertimbangan.

Beberapa peserta dari Jerman pun setuju bahwa seharusnya Uni Eropa melakukan pertimbangan yang lebih matang dalam proses integrasinya. (kbri/krs)

Berita Terbaru

Vettel Juara GP Australia
"Hari ini sangat indah. Terima kasih semuanya,"

Polres Jakbar Telusuri Kasus Narkoba Ridho Rhoma
Saat digeledah di mobilnya kami temukan satu paket shabu seberat 0,76 gram

Susanto, Pemilik 30 Kilogram Shabu Dituntut Mati
Pekerjaan terdakwa, termasuk jaringan Internasional (antar Negara) dan bertentangan dengan program pemerintah Indonesia

Jamu Valencia, Peluang Barca Raih Poin Penuh
Kemenangan jadi kewajiban untuk kami, guna menjaga potensi untuk menelikung Madrid di klasemen

Menerima Shabu 500 Gram, Juwita Divonis Penjara 12 Tahun
"Terima kasih Bapak Hakim. Saya menerima putusan 12 tahun penjara ini,"